Selasa, 06 April 2010

KANKER SERVIK SI PERENGGUT NYAWA

Tentu anda sudah tak asing lagi dengan istilah kanker servik (cervical cancer) atau kanker pada leher rahim. Sesuai dengan namanya, kanker servik atau kanker leher rahim adalah kanker yang terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk kearah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina). Kanker ini biasanya terjadi pada wanita yang telah berumur, tetapi bukti statistik menunjukkan bahwa kanker servik juga dapat menyerang wanita yang berumur antara 20 sampai 30 tahun.

Memang istilah "kanker" sendiri sudah pasti memberi kesan menakutkan dan menyeramkan. Laksana seorang terpidana menerima hukuman mati. Bahkan tambah seram lagi jika ditambah dengan embel-embel “si perenggut nyawa.”

Mengapa kanker servik dikatakan sebagai si perenggut nyawa?

Kanker servik dikatakan sebagai perenggut nyawa karena setiap dua menit ada satu orang wanita di seluruh dunia meninggal karena kanker servik. Menurut penelitian, tiap tahunnya, 16 dari 100.000 kaum perempuan di seluruh dunia menderita kanker servik, dan sekitar 9 dari 100.000 orang meninggal dunia. Makanya tak ayal lagi, penyakit ini menjelma jadi perenggut nyawa nomor dua pada wanita setelah kanker payudara, dan ketiga menyusul kanker paru.

Meskipun demikian, kanker ini pada stadium awal bisa disembuhkan hingga 100%. Hanya sayangnya pada stadium awal, kanker servik justru tidak menunjukkan gejala yang khas. Gejala khas seperti keputihan yang berbau dan kadang tercampur darah, pendarahan saat melakukan senggama atau pendarahan di luar siklus haid maupun saat menopause, terjadi saat kanker ini sudah mencapai stadium lanjut. Kenyataannya di lapangan pasien sering datang saat gejala khas ini muncul yang berarti sudah berada pada stadium lanjut sehingga sulit untuk disembuhkan.

Salah satu penyebab hilangnya nyawa manusia dengan mudah ini karena informasi yang berkaitan dengan kanker serviks belum dapat menjangkau seluruh masyarakat, terutama wanita. Padahal, semua wanita berisiko terkena kanker yang menyerang organ utama mereka. Sebenarnya ada beberapa hal yang menyebabkan seorang perempuan itu berisiko tinggi menderita kanker servik di antaranya adalah:

  1. Wanita yang melakukan hubungan seksual pada usia muda seperti wanita di usia 15 tahun.
  2. Pernah atau baru terinfeksi HPV (Human Papiloma Virus), kondiloma atau keduanya
  3. Pengguna immunosuppressan, contohnya pada mereka yang melakukan transplantasi ginjal
  4. Riwayat merokok atau kecanduan terhadap zat-zat lain
  5. Adanya displasia servikal, endometrium, vagina atau kanker vulva
  6. Suka berganti-ganti pasangan
  7. Banyak anak dan jarak kelahirannya pendek

Bagaimanakah kanker servik itu terjadi?

Layaknya semua kanker, terjadinya kanker servik ditandai dengan adanya pertumbuhan sel-sel pada leher rahim yang tidak lazim (abnormal). Tetapi sebelum sel-sel tersebut menjadi sel-sel kanker, terjadi beberapa perubahan yang dialami oleh sel-sel tersebut. Perubahan sel-sel tersebut biasanya memakan waktu sampai bertahun-tahun sebelum sel-sel tersebut berubah menjadi sel-sel kanker. Selama jeda tersebut, pengobatan yang tepat akan segera dapat menghentikan sel-sel abnormal tersebut sebelum berubah menjadi sel kanker. Kebanyakan penyebab umum dari kanker servik ini adalah Human Papiloma Virus. dr. Layla Nurana, Sp.OG dari Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI RSUPNCM pada acara National Conference Gynecologic Surgery II dan Midwife Workshop mengatakan bahwa salah satu penyebab utama kanker servik adalah infeksi Human Papiloma Virus (HPV). HPV ini sangat mudah ditularkan, terutama melalui hubungan seksual. Setiap wanita yang aktif berhubungan seksual, lebih dari 50%, beresiko terinfeksi HPV onkogenik. Bahkan infeksi bisa terjadi tanpa melakukan penetrasi penis sekalipun, yakni hanya dengan saling kontak kulit alat kelamin.

Meskipun selama ini kita beranggapan, jika mengalami kanker servik adalah ketakutan terbesar. Apalagi kanker ini juga dapat menimbulkan kematian. Namun, dengan pengetahuan yang tepat, maka kanker servik tidak perlu ditakuti lagi. Oleh kerena itu, kita jangan selalu beranggapan bahwa kanker servik merupakan “si Perenggut Nyawa” terutama bagi kaum hawa karena kanker ini dapat dicegah. Adapaun caranya anatara lain:

  1. Menjalani pola seksual yang sehat, serta menjaga kebersihan alat kelamin.
  2. Meminimalisasi konsumsi zat pengawet serta memperbanyak konsumsi makanan yang mengandung vitamin A dan zat anti oksidan seperti vitamin E dan C.
  3. Bagi perempuan yang telah aktif secara seksual,sebaik nya juga melakukan screening atau deteksi dini,utk mendeteksi sel kanker.

Berbicara soal screening dan deteksi dini. Salah satu cara untuk mendeteksi dini kanker servik ini adalah dengan melakukan pap smear test. Metode ini cukup efektif karena bisa mengurangi insiden kanker servik hingga 90%. Dengan pap smear test ini, sel-sel yang abnormal dapat didteksi kehadirannya. Sehingga semakin dini sel-sel abnormal tadi terdeteksi, semakin rendahlah resiko seseorang menderita kanker servik. Menurut Prof. dr. I. B. G. Manuaba, Sp.OG bahwa pendeteksian kanker servik hanya berlaku bagi wanita yang sudah melakukan hubungan seksual. Bagi wanita 'perawan' biasanya terhindar dari kanker servik.

Selain itu, ada metoda alternative lainnya, seperti inspeksi visual dengan asam asetat (VIA) atau Lugol’s iodine (VILI) menawarkan skrining yang menjanjikan. Selain mudah dilakukan, hasilnya juga cepat dan efektif untuk mengidentifikasi perubahan prakanker servik. Selain itu juga ada tes yang lebih objektif, yakni HPV DNA. Tes ini lebih baik dibandingkan yang lainnya pada wanita usia 30 tahun ke atas.

Selain dengan pendeteksian dini melalui pemeriksaan pap smear dan VIA, kini pencegahan kanker servik sudah selangkah lebih maju dengan ditemukannya vaksin pencegahan kanker servik atau vaksin HPV. Vaksinasi pencegahannya dikenal dengan gardasil, diberikan suntikan selama 3 kali dalam periode waktu 6 bulan. Perlu diingat bahwa vaksinasi ini tidak mencegah semua tipe kanker servik, tidak bisa untuk penanganan kanker servik atau luka vagina yang lain. Vaksin ini bekerja dengan cara membantu tubuh membangun kekebalan terhadap HPV dan secara aktif melawan HPV penyebab kanker dan memberikan tingkat antibodi/kekebalan awal yang tinggi.

Berbagai cara telah di kembangkan oleh dunia kedokteran, mulai dari deteksi dini dengan Pap Smear dan VIA, serta di temukannya vaksin khusus untuk HPV. Mudah-mudahan image “kanker servik si perenggut nyawa” dapat kita lenyapkan. Soalnya dengan deteksi dini kita dapat mengetahui secara cepat kejadian kanker servik. Sehingga kita dapat mengobatinya dengan cepat dan tepat. Serta efeknya pun juga lebih baik bahkan bisa sembuh 100%.

* Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Andalas angkatan 2007, yang pada saat ini diamanahkan sebagai staf Bidang Kesekretariatan UKM Medicalstudent Research Center (MRC) BEM KM FK Unand.